Oleh: Nurapriyanti, Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi, Institut Teknologi dan Bisnis Indobaru Nasional, Batam

Di bulan Ramadhan ini Dimana setiap muslim berlomba-lomba untuk mensucikan diri. Namun, di era digital sekarang banyak umat muslim mengalami tantangan bepuasa. Jika dahulu diberatkan oleh makanan atau minuman kini ujian terbesarnya ada dalam gengaman kita yaitu smarthphone. Layar ponsel bisa menjadi lubang hitam yang menghabiskan pahala kita sedikit demi sedikit, jari jemari kita juga lincah dalam mengetik komentar pedas atau scroll tanpa batas dari pada lisan yang basah karna memperbanyak dzikir dan mengaji. Mata dan pikiran kita juga bisa melihat dan berfikir yang aneh-aneh.

 Karena itu, puasa digital menjadi sangat relevan untuk kita terapkan agar Ramadhan kita tidak sia-sia. Saring sebelum sharering: melawan ghibah digital, jika dibulan biasa itu membicarakan keburukan orang lain atau menyebar berita hoaks adalah dosa besar, maka di bulan Ramadhan berlipat ganda dosa nya. Maka sebelum menekan share tanyakan pada diri sendiri: apakah berita nya benar? Apakah ini akan menyakiti hati orang lain? Menahan lah jempol untuk membagi kan konten yang tidak jelas sumbernya.

 Selain itu, Memper erat tali Silaturahim: hadir secara nyata berbuka puasa Bersama, sering disebut reuni. Namun yang selalau terjadi yaitu Ketika duduk di satu meja tapi sibuk dengan ponsel masing-masing. Dibulan Ramadhan momen yang sangat pas untuk kita memperbaiki hubungan antara manusia (hablum minnas). Saat duduk keluarga, teman cobalah untuk terlihar benar-benar hadir. Masukan ponsel ke tas, menatap lawan bicara, dan dengarkan cerita mereka.

Terakhir Infinite scroll: membatasi scroll tanpa henti, media sosial untuk membuat kita betah berlama-lama menatap layar. Tanpa terasa waktu kita terbuang sia-sia hanya karna sosial media dan hilang waktu kita yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca al-qur’an atau mendengar kajian, habis hanya untuk melihat kehidupan orang lain yang belum tentu bermanfaat bagi kita

Di tengah kemajuan teknologi sekarang, ujian dalam menjalankan puasa tidak lagi sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan penggunaan smartphone secara berlebihan. Media sosial sering kali menyita waktu, memicu ghibah di ruang digital, dan menjauhkan perhatian dari aktivitas ibadah. Karena itu, penerapan puasa digital menjadi upaya yang relevan agar Ramadhan dapat dijalani dengan lebih bermakna. Dengan lebih selektif dalam membagikan informasi, menjalin silaturahim secara langsung, serta membatasi kebiasaan scroll tanpa batas, umat Muslim dapat menjaga nilai pahala puasa dan menjadikan Ramadhan sebagai sarana penyucian diri sekaligus peningkatan keimanan.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *